Evaluasi

Akhirnya kita sampai dipenghujung tahun!

Tidak terasa sebentar lagi 2017 akan kita tinggalkan, lembaran tahun yang baru akan kita buka bersama-sama, dan banyak hal yang kita lakukan di 2017 sebentar lagi hanya dapat menjadi kenangan. Bagi sebagian orang, pergantian tahun ini justru menjadi bahan evaluasi buat diri pribadi atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Beberapa lainnya menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memulai segala sesuatu yang baru yang telah diniatkan.

Bagi saya sendiri, hingga tiba diujung tahun ini, momentum pergantian tahun membuat saya justru menyadari bahwa sepanjang tahun kemarin saya justru tidak melakukan banyak perubahan bagi diri saya sendiri. Kecuali, status saya yang berganti menjadi mahasiswa. Selebihnya, resolusi-resolusi yang dulu saya tulis panjang-panjang sebagai ‘to do list on 2017’ lebih banyak tidak tersentuh.

Mereka hanya selesai di atas kertas, tanpa realisasi apapun.

Continue reading “Evaluasi”

Advertisements

Teman.

Lalu aku sebagai temanmu, membantumu menyelesaikan tugas makalah yang menurutmu begitu merepotkan dan membuang-buang waktu. Kamu bercerita panjang lebar segala hal yang membuatmu tertarik, dan aku hanya memandangmu sesekali dari balik layar laptop.

Di depanku ada segelas es lemon yang entah mengapa kamu pesan saat hujan sedang deras-derasnya. Es lemon yang tertawa sembunyi menyaksikan aku mengagumimu begitu binar matamu mentapaku dalam.

Continue reading “Teman.”

OPINI#4 Yang Lumrah Yang Berubah

Saya percaya secanggih apapun teknologi ada menunjang kehidupan kita, selalu ada celah yang memberi manusia ruang agar tetap menjadi sebagaimana manusia semestinya. Bahkan pada teknologi paling mutakhir sekalipun.

Kita punya kuasa penuh atas apa yang akan kita putuskan, dan kita pulalah yang akan merasakan manfaat dari kebaikan yang kita sebar. Saya merupakan satu dari generasi millennial dan saya mengakui generasi saya begitu rentan terhadap begitu derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang seolah tiada habisnya.

Individualisme kita seolah makin meruncing, mengikis satu per satu nilai-nilai sosial dan menganggap baik apa yang belum tentu baik, meniilai buruk sesuatu yang sebenarnya berguna untuk kehidupan kita. Kita diperdaya ego dan keinginan sesaat lantaran apa yang kita akui kita pegang teguh, nyatanya masih belum tergenggam kuat.

Jika kita begitu mudah tersinggung dengan perkataan orang lain, apakah tidak sebegitu mudah juga kita memaafkan sesama? Katanya kita menjunjung tinggi toleransi, namun perbedaan kecil saja mampu menyulut emosi kita.

Jika ucapan terima kasih begitu sulit terlontar, mengapa satu kata maaf begitu berat terucap? Bagi saya, terima kasih merupakan hal dasar yang dapat dilakukan seseorang sebagai bentuk penghargaan dan apresiasinya atas keberadaan orang lain dan dengan terima kasih, seseorang akan merasa mampu memberi manfaat kepada sesama.

Dalam agama apapun, tidak dibenarkan melakukan kesalahan dalam bentuk apapun. Dan dalam agama apapun juga, semua manusia itu sesungguhnya sama di mata Tuhan. Saya kadang kesal kepada orang-orang yang bahkan untuk berujar maaf pun terasa berat. Siapakah kita yang sulit memaafkan kesalahan orang lain?

Tulisan saya ini tidak memaksa kalian, pembaca saya, untuk juga memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Namun cobalah kita menajamkan naluri kita. Sebagai manusia hati kecil kita tidak akan bisa dibohongi.

Berterima kasihlah kepada mereka yang menjadikanmu ada, memaafkan jika dihati kita keegoisan mulai menipis, tersenyumlah sebagai satu bentuk ibadah tersederhana dan “hiduplah” sebagaimana hati menyuarakan perasaannya.
Karena hal yang sederhana, yang datang dari hati kita, takkan mampu terkuasai apapun.

Sama-Sama Sampai Tua

Seperti roda yang selalu berputar
Ada saat ketika ia mulai lelah, menipis dan berhenti
Juga seperti denting waktu pengingat ku
Tentang kalian
Ada saat ketika ia pelan-pelan melemah, tak berdenting
Mati menyisakan banyak memoar

Saat semua tidak lagi pada harapan, keinginan dan cita-cita masa lalu
Ada aku yang berjuang agar semua tak lagi kelabu
Tidak perlu risau untuk masa yang di depan
Atau pada sekarang yang tanpa kejelasan
Karena Tuhan bersama kita tanpa alasan

Jika saja tidak ada bintang yang abadi pada malam,
Tidak akan kita mengenal setia yang menjanjikan
Karena walau seluruhnya gelap
Selalu ada setitik terang yang melegakan
Untuk segala risau, sakit hati dan pengorbanan

Dan seperti hari yang selalu menawarkan yang baru
Aku, kamu dan kita siap menjemput hari tanpa malu
Kembali berpegang, menguatkan, mengiring
Kepergian malam yang kemarin pekat menuju harapan yang tak lagi kelabu

Menunjukkan bahwa yang setia tidak hanya bintang pada malam
Tapi juga aku pada kamu
Kita akan sama-sama sampai tua


Makassar, 27 Juli 2017

OPINI#3 Seberapa Penting Gadget Kamu?

Kejadian tempo hari di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta akhirnya mengantar saya membuat tulisan ini. Mungkin bagi beberapa orang, apa yang saya bahas ini membuat mereka justru melayangkan ketidaksetujuan. Tapi, tulisan saya ini hanya sebagai bentuk pandangan saya terhadap apa yang saya, atau mungkin teman-teman juga rasakan.

Kita hidup di era digital saat sebagian besar orang menghabiskan hampir seluruh waktunya berada di depan gadget. Bagi pekerja kantoran, mereka membutuhkan computer untuk memudahkan pekerjaan mereka. Bagi mahasiswa, belajar melalui smartphone mungkin jauh lebih efektif, daripada bawa buku berat-berat kan? Lebih-lebih bagi mereka, para pekerja di industri kreatif, keberadaan gadget jauh lebih penting.

But lets take a look to another side.

Waktu saya lagi menunggu panggilan pesawat, ruang tunggu bandara sedang dipenuhi penumpang yang lagi mudik. Saya memilih duduk di samping bapak tua yang sedang asyik memegang handphone-nya. Saat saya permisi untuk duduk, si bapak hanya melihat sekilas lalu menggeser duduknya-memberi saya tempat. Kemudian kembali asyik dengan benda ajaib itu.

Saya mengedarkan pandangan. Orang-orang menjelma menjadi patung dengan posisi yang sama di mata saya. Tangan memegang gadget dan pandangan yang seolah tak teralihkan. Sesekali ada di antara mereka yang sebentar-sebentar menoleh, melihat keadaan, lalu kembali tertunduk. Tapi ada juga yang memilih berbincang dengan orang di sebelahnya. Namun sesaat kemudian, mereka kembali ke dunia maya.

Selang beberapa lama kemudian, seorang ibu tua berkerudung duduk tepat di depan saya, di antara dua mahasiswa ikatan dinas yang sedang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ibu itu tersenyum sebentar lalu melirik dua mahasiswa tadi yang sama sekali mungkin tidak menyadari kehadiran ibu itu.

“Mau ke mana dek?” Katanya.

“Ke Makassar, bu.” Jawabku singkat.

“Penerbangan jam berapa?”

“Penerbangan jam 11 bu, naik Batik. Bentar lagi,” Ku harap si ibu akan kembali bertanya. Tapi ternyata ia hanya manggut-manggut lalu mengajak si dua mahasiswa itu berbincang.

“Mau pulang dek?”

Dua mahasiswa itu, karena sudah sadar diajak ngorol si ibu, menoleh. Salah satunya membalas mengangguk. Yang satu lagi, karena merasa tidak perlu menjawab, kembali bermain smartphone.

“Kampungnya sama?” Tanya ibu lagi sambil brgantian menunjuk dua mahasiswa itu.

Mahasiswa yang menjawab tadi, menggeleng kepala. Yang satunya santai aja tuh main handphone.

Si ibu melihat saya yang sedari tadi memerhatikan dia. Saya hanya cengengesan, mengerti maksud ibu. Kemudian si ibu pamit, pesawatnya akan segera lepas landas.

Saya tidak memungkiri bahwa perkembangan teknologi masa kini, yang makin hari makin memudahkan urusan kita, jauh memberi banyak manfaat. Namun, dari kisah singkat saya tadi setidaknya ada yang bisa kita renungkan.

There are too many negative effects of using gadget excessively, especially using social media.

Keramahan masyarakat kita yang dielukan orang, kini tidak seperti dulu. Perumahan sepi dengan bincang-bincang tetangga, sehingga jangan heran ada tetangga yang bahkan tidak tahu pekerjaan orang yang tinggal di sebelah rumah mereka. Di ruang tunggu, tempat antrian dan gerbong kereta, tidak ada lagi obrolan hangat bapak tua dengan pemuda, atau seorang ibu dengan ibu lainnya. Mereka tenggelam di pusaran arus chat grup WA/LINE.

Anak-anak tidak lagi di’sodori’ bekel, bongkar pasang, buku cerita bergambar dan dongeng-dongeng pengantar tidur. Mereka justru disuapi tayangan warna-warni dengan suara elok menggemaskan yang ada di layar gadget. Membuat anak bahkan tidak tahu esensi dari bermain, menghabiskan waktu menyusun balok ini-itu dan menikmati masa anak-anak sebagaimana kodratnya.

Yang saya sayangkan, social media justru menjadi boomerang besar bagi orang-orang labil yang mudah diombang-ambing oleh info yang disajikan. Lalu mereka meniru apa yang seharusnya belum pantas bagi mereka. Jelasnya, mereka rela meminta banyak uang orang tua, lalu ikut-ikutan trend demi gengsi yang harus dijunjung tinggi.

Belum lagi dengan dampak bagi kesehatan kita. Berdasarkan penelitian dari California State University, penggunaan social networking secara berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan  jiwa tiap orang.

Fear of Missing Out (FOMO), gangguan yang mungkin tidak asing lagi bagi kita. Suatu perasaan cemas berlebih yang diderita oleh mereka yang terus menerus menghabiskan waktu cek grup lah, like photo teman, share status ini-itu, atau post begitu banyak foto (most of them are selfie). Mereka memiliki ketergantungan yang sangat kuat akan social media, sehingga khawatir jika meninggalkan gadget dalam waktu yang lama.

Selain FOMO, mereka yang tidak bisa lepas dengan gadget—terlebih mereka yang sudah begitu sering menggunakan social media, juga akan menderita penyakit kepribadian berkaitan dengan narsistik. Ini bagi mereka yang terlalu sering mengunggah selfie mereka, membuat mereka kecanduan dan memiliki rasa mencintai diri sendiri yang terlalu berlebihan.

Dan ada banyak dampak lain yang sadar atau tidak, pelan-pelan merasuki diri kita  masing-masing, menjadi boomerang lalu justru memperburuk keadaan kita sekarang.

Bukankah kita tahu, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Saya amat bersyukur dengan kemudahan teknologi komunikasi yang kita peroleh, namun mari kita berpikir sejenak sebelum menggunakan konten yang lebih besar mudarat daripada manfaatnya. Lets be a smart user of technology.

 

 

 

Menjadi Senang karena Hal Kecil

          Apa yang membuat kita kadang atau bahkan selalu merasa begitu senang karena hal-hal tertentu yang tak bisa diukur nilainya? Bahkan materi pun bukan tolak ukur konkrit untuk menilai seberapa senang kita.

          Rasa senang ini juga ibarat candu yang mengingatnya pun mampu membuat kita senyum-senyum sendiri, (seolah) melihat segala sesuatu dengan warna-warni indah lalu berhasil membuat mood kita membaik sepanjang  hari.

          Beberapa tahun lalu, saya begitu senang ketika bapak mendongengkan sembari mengeloni saya ketika malam hari sebelum tidur. Kebiasaan itu sudah jauh tertinggal di masa lalu, dan ketika mengingatnya kini membuat saya ingin terus menjadi anak-anak.

          Tahun berjalan. Menginjak usia sekolah, kesenangan saya manjadi berubah. Menyabuti uban mama di akhir pekan menjadi hal, yang meskipun saat itu mau tidak mau harus saya kerjakan, tapi ketika satu persatu rambut putih itu berhasil saya cabut menggunakan pinset sampai akar, rasa senang dan puas pun saya rasakan.

          Lain cerita jika saya kelamaan tidur siang dan malamnya ada pertandingan bola yang bapak tunggu-tunggu. Saya pasti dengan senang menemani. Tim apa yang bertanding, saya tidak peduli. Saya senang melihat bapak bersorak bahagia jika tim andalan berhasil ini-itu. Dan berseru, “Paaaakkk, gooollll!!!” saat bapak ada di dapur membuat kopi. Padahal seruan saya itu hanya untuk membuat bapak cepat-cepat kembali ke ruang tengah menemani saya.

          Saya juga senang di-usia tua mama sekarang ini, masih selalu menjahitkan saya sesuatu. Beberapa bulan lalu mama menjahitkan sprei untuk kasur saya, dan hal ini cukup membuat saya senang. Senang karena mama dengan segala “ke-ibu-an”nya menyelesaikan sprei yang menjadi favorit saya.

          Atau ketika sehari sebelum cara prom night SMA dua bulan lalu. Baju yang sudah jauh-jauh hari saya siapkan di penjahit langganan tidak sesuai yang diharapkan. Alhasil, malam sebelum acara penting itu, mama merombak seluruh jahitan. Dengan mesin jahit kepunyaannya, ia menjahit ulang baju prom saya itu sesuai harapan saya. Dan saat malam sudah begitu larut, ia membuka kamar saya, “Bajunya sudah jadi, coba dipakai” Saya senang karena tidak jadi tidak ikut prom, dan saya senang punya orang tua seperti mama.

          Dan banyak kesenangan saya dari hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain tidak ada apa-apanya. Tapi ketika kita menghargai pemberian, pengorbanan dan usaha yang orang lain lakukan, sekecil apapun itu, senang yang kita dapatkan akan jauh lebih dari yang dapat diukur materi.

          Ketika saya membaca banyak chat LINE teman grup saya, membuat saya mengerti arti ikatan persahabatan,

          Ketika saya pusing memilih dan akhirnya membeli buku,

          Ketika saya minta dibuatkan mi instan kuah oleh bapak, karena menurut saya buatannya adalah yang terenak,

          Ketika saya tidur hingga larut malam, entah karena menonton film atau mencari ide

          Saya selalu merasa senang.

          Sebuah proses yang dinikmati, yang suatu saat nanti pasti akan kita kenang.

          Lalu, hal apa yang membuat kalian juga merasa hal yang sama?