OPINI#3 Seberapa Penting Gadget Kamu?

Kejadian tempo hari di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta akhirnya mengantar saya membuat tulisan ini. Mungkin bagi beberapa orang, apa yang saya bahas ini membuat mereka justru melayangkan ketidaksetujuan. Tapi, tulisan saya ini hanya sebagai bentuk pandangan saya terhadap apa yang saya, atau mungkin teman-teman juga rasakan.

Kita hidup di era digital saat sebagian besar orang menghabiskan hampir seluruh waktunya berada di depan gadget. Bagi pekerja kantoran, mereka membutuhkan computer untuk memudahkan pekerjaan mereka. Bagi mahasiswa, belajar melalui smartphone mungkin jauh lebih efektif, daripada bawa buku berat-berat kan? Lebih-lebih bagi mereka, para pekerja di industri kreatif, keberadaan gadget jauh lebih penting.

But lets take a look to another side.

Waktu saya lagi menunggu panggilan pesawat, ruang tunggu bandara sedang dipenuhi penumpang yang lagi mudik. Saya memilih duduk di samping bapak tua yang sedang asyik memegang handphone-nya. Saat saya permisi untuk duduk, si bapak hanya melihat sekilas lalu menggeser duduknya-memberi saya tempat. Kemudian kembali asyik dengan benda ajaib itu.

Saya mengedarkan pandangan. Orang-orang menjelma menjadi patung dengan posisi yang sama di mata saya. Tangan memegang gadget dan pandangan yang seolah tak teralihkan. Sesekali ada di antara mereka yang sebentar-sebentar menoleh, melihat keadaan, lalu kembali tertunduk. Tapi ada juga yang memilih berbincang dengan orang di sebelahnya. Namun sesaat kemudian, mereka kembali ke dunia maya.

Selang beberapa lama kemudian, seorang ibu tua berkerudung duduk tepat di depan saya, di antara dua mahasiswa ikatan dinas yang sedang sibuk dengan smartphone masing-masing. Ibu itu tersenyum sebentar lalu melirik dua mahasiswa tadi yang sama sekali mungkin tidak menyadari kehadiran ibu itu.

“Mau ke mana dek?” Katanya.

“Ke Makassar, bu.” Jawabku singkat.

“Penerbangan jam berapa?”

“Penerbangan jam 11 bu, naik Batik. Bentar lagi,” Ku harap si ibu akan kembali bertanya. Tapi ternyata ia hanya manggut-manggut lalu mengajak si dua mahasiswa itu berbincang.

“Mau pulang dek?”

Dua mahasiswa itu, karena sudah sadar diajak ngorol si ibu, menoleh. Salah satunya membalas mengangguk. Yang satu lagi, karena merasa tidak perlu menjawab, kembali bermain smartphone.

“Kampungnya sama?” Tanya ibu lagi sambil brgantian menunjuk dua mahasiswa itu.

Mahasiswa yang menjawab tadi, menggeleng kepala. Yang satunya santai aja tuh main handphone.

Si ibu melihat saya yang sedari tadi memerhatikan dia. Saya hanya cengengesan, mengerti maksud ibu. Kemudian si ibu pamit, pesawatnya akan segera lepas landas.

Saya tidak memungkiri bahwa perkembangan teknologi masa kini, yang makin hari makin memudahkan urusan kita, jauh memberi banyak manfaat. Namun, dari kisah singkat saya tadi setidaknya ada yang bisa kita renungkan.

There are too many negative effects of using gadget excessively, especially using social media.

Keramahan masyarakat kita yang dielukan orang, kini tidak seperti dulu. Perumahan sepi dengan bincang-bincang tetangga, sehingga jangan heran ada tetangga yang bahkan tidak tahu pekerjaan orang yang tinggal di sebelah rumah mereka. Di ruang tunggu, tempat antrian dan gerbong kereta, tidak ada lagi obrolan hangat bapak tua dengan pemuda, atau seorang ibu dengan ibu lainnya. Mereka tenggelam di pusaran arus chat grup WA/LINE.

Anak-anak tidak lagi di’sodori’ bekel, bongkar pasang, buku cerita bergambar dan dongeng-dongeng pengantar tidur. Mereka justru disuapi tayangan warna-warni dengan suara elok menggemaskan yang ada di layar gadget. Membuat anak bahkan tidak tahu esensi dari bermain, menghabiskan waktu menyusun balok ini-itu dan menikmati masa anak-anak sebagaimana kodratnya.

Yang saya sayangkan, social media justru menjadi boomerang besar bagi orang-orang labil yang mudah diombang-ambing oleh info yang disajikan. Lalu mereka meniru apa yang seharusnya belum pantas bagi mereka. Jelasnya, mereka rela meminta banyak uang orang tua, lalu ikut-ikutan trend demi gengsi yang harus dijunjung tinggi.

Belum lagi dengan dampak bagi kesehatan kita. Berdasarkan penelitian dari California State University, penggunaan social networking secara berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan  jiwa tiap orang.

Fear of Missing Out (FOMO), gangguan yang mungkin tidak asing lagi bagi kita. Suatu perasaan cemas berlebih yang diderita oleh mereka yang terus menerus menghabiskan waktu cek grup lah, like photo teman, share status ini-itu, atau post begitu banyak foto (most of them are selfie). Mereka memiliki ketergantungan yang sangat kuat akan social media, sehingga khawatir jika meninggalkan gadget dalam waktu yang lama.

Selain FOMO, mereka yang tidak bisa lepas dengan gadget—terlebih mereka yang sudah begitu sering menggunakan social media, juga akan menderita penyakit kepribadian berkaitan dengan narsistik. Ini bagi mereka yang terlalu sering mengunggah selfie mereka, membuat mereka kecanduan dan memiliki rasa mencintai diri sendiri yang terlalu berlebihan.

Dan ada banyak dampak lain yang sadar atau tidak, pelan-pelan merasuki diri kita  masing-masing, menjadi boomerang lalu justru memperburuk keadaan kita sekarang.

Bukankah kita tahu, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Saya amat bersyukur dengan kemudahan teknologi komunikasi yang kita peroleh, namun mari kita berpikir sejenak sebelum menggunakan konten yang lebih besar mudarat daripada manfaatnya. Lets be a smart user of technology.

 

 

 

Menjadi Senang karena Hal Kecil

          Apa yang membuat kita kadang atau bahkan selalu merasa begitu senang karena hal-hal tertentu yang tak bisa diukur nilainya? Bahkan materi pun bukan tolak ukur konkrit untuk menilai seberapa senang kita.

          Rasa senang ini juga ibarat candu yang mengingatnya pun mampu membuat kita senyum-senyum sendiri, (seolah) melihat segala sesuatu dengan warna-warni indah lalu berhasil membuat mood kita membaik sepanjang  hari.

          Beberapa tahun lalu, saya begitu senang ketika bapak mendongengkan sembari mengeloni saya ketika malam hari sebelum tidur. Kebiasaan itu sudah jauh tertinggal di masa lalu, dan ketika mengingatnya kini membuat saya ingin terus menjadi anak-anak.

          Tahun berjalan. Menginjak usia sekolah, kesenangan saya manjadi berubah. Menyabuti uban mama di akhir pekan menjadi hal, yang meskipun saat itu mau tidak mau harus saya kerjakan, tapi ketika satu persatu rambut putih itu berhasil saya cabut menggunakan pinset sampai akar, rasa senang dan puas pun saya rasakan.

          Lain cerita jika saya kelamaan tidur siang dan malamnya ada pertandingan bola yang bapak tunggu-tunggu. Saya pasti dengan senang menemani. Tim apa yang bertanding, saya tidak peduli. Saya senang melihat bapak bersorak bahagia jika tim andalan berhasil ini-itu. Dan berseru, “Paaaakkk, gooollll!!!” saat bapak ada di dapur membuat kopi. Padahal seruan saya itu hanya untuk membuat bapak cepat-cepat kembali ke ruang tengah menemani saya.

          Saya juga senang di-usia tua mama sekarang ini, masih selalu menjahitkan saya sesuatu. Beberapa bulan lalu mama menjahitkan sprei untuk kasur saya, dan hal ini cukup membuat saya senang. Senang karena mama dengan segala “ke-ibu-an”nya menyelesaikan sprei yang menjadi favorit saya.

          Atau ketika sehari sebelum cara prom night SMA dua bulan lalu. Baju yang sudah jauh-jauh hari saya siapkan di penjahit langganan tidak sesuai yang diharapkan. Alhasil, malam sebelum acara penting itu, mama merombak seluruh jahitan. Dengan mesin jahit kepunyaannya, ia menjahit ulang baju prom saya itu sesuai harapan saya. Dan saat malam sudah begitu larut, ia membuka kamar saya, “Bajunya sudah jadi, coba dipakai” Saya senang karena tidak jadi tidak ikut prom, dan saya senang punya orang tua seperti mama.

          Dan banyak kesenangan saya dari hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain tidak ada apa-apanya. Tapi ketika kita menghargai pemberian, pengorbanan dan usaha yang orang lain lakukan, sekecil apapun itu, senang yang kita dapatkan akan jauh lebih dari yang dapat diukur materi.

          Ketika saya membaca banyak chat LINE teman grup saya, membuat saya mengerti arti ikatan persahabatan,

          Ketika saya pusing memilih dan akhirnya membeli buku,

          Ketika saya minta dibuatkan mi instan kuah oleh bapak, karena menurut saya buatannya adalah yang terenak,

          Ketika saya tidur hingga larut malam, entah karena menonton film atau mencari ide

          Saya selalu merasa senang.

          Sebuah proses yang dinikmati, yang suatu saat nanti pasti akan kita kenang.

          Lalu, hal apa yang membuat kalian juga merasa hal yang sama?

Terus Rindu

Ini masih suasana lebaran. Di meja-meja makan masih terhidang ketupat, opor ayam dan segala macam yang membuat hari raya semakin meriah. Dan saya masih berkawan dengan rindu tak berujung. Yang selamanya akan tetap begitu.

Ini sudah bulan ke-enam kepergianmu. Bukan, bukan saya tidak ikhlas melepas. Tapi saya masih terus mengajak diri saya berdamai tentang kehilangan. Kehilangan yang bagi siapapun tidak akan pernah menjadi perpisahan yang indah. Perpisahan tanpa pesan yang harus dijaga, membuat saya merasa bukan apa-apa.

Sesusah apapun saya menyibukkan diri, sesibuk apapun saya mengurus ini-itu dikeseharian saya, selalu ada kamu yang terlintas. Selalu ada begitu banyak ‘seandainya’ yang berbisik di kepala saya. Selalu ada kilas pertemuan-pertemuan kita yang selalu berhasil membuat saya sesak, lalu berusaha keras menahan air mata, bergegas menyendiri lalu menangis berderai.

Kamu itu spesial. Sampai kapan pun akan spesial.

Bukan karena kita mengenal sudah sekian tahun atau kamu pernah memberi sesuatu yang spesial pula. Tapi karena sama kamu, saya menjadi apa-adanya saya.

Malam-malam beku ketika saya menelponmu, menangis tentang masalah saya, lalu kamu diujung telepon akan diam mendengar sampai saya selesai. Kamu justru tidak menasehati saya, menyalahkan perbuatan saya yang saya tahu salah, tapi kamu justru membenarkan dan membuat saya merasa apapun akan baik-baik saja.

Hari-hari saat saya dengan Beat orange menjemput kamu, lalu kita berdua ke mall, berfoto box ditempat yang sama (sampai si mbaknya tau kita akan foto dengan ukuran berapa) menghabiskan waktu sampai kita berdua bingung karena kehabisan uang lalu pulang. Saya rindu diboceng kamu.

Atau ketika Ramadhan tahun kemarin, saat kamu datang ke rumah, memaksa Bapakku untuk membeli takjil yang kamu jual untuk cari dana organisasi, lalu buru-buru pergi begitu saya keluar rumah. Malamnya kamu malah chat saya bilang Bapak begitu baik mau membeli takjil yang sengaja kamu jual mahal. Ah, ini buat saya makin rindu kamu.

Tapi Ramadhan tahun ini kamu sudah tenang.

Tidak lagi khawatir dengan begitu banyak resahmu yang pernah kamu bagi, sudah begitu bahagia karena saya yakin Tuhan menaruhmu ditempat terbaik.

Jangan anggap saya berlebihan seolah kamu adalah belahan jantung saya yang pergi. Karena sesungguhnya saya menganggap kamu jauh lebih berarti, yang dalam beberapa pencapaian saya, kamu berperan begitu besar.

Saya hanya tidak tahu dalam bentuk apa saya bisa menemui mu selain mengais kembali ingatan-ingatan saya tentang kamu. Meskipun saya selalu sedih banyak cita yang kini menjadi perjuangan saya, tanpa kamu.

Jangan larang saya untuk merasa terus begini. Bukankah perpisahan, kehilangan dan kematian selalu menyedihkan? Biarkan. Karena hanya dengan begini, saya merasa terus dekat dengan kamu.

PicsArt_06-26-06.34.19[1]

Teka-Teki

  Ada suatu waktu ketika aku hanya ingin pergi. Sendiri. Tanpa siapapun, tanpa apapun. Aku ingin berlari hingga tak kutemukan ujung jalan. Sampai sakit kaki ini, sampai lelah napas ini, sampai semua yang kunyatakan sia-sia kembali datang dengan harapan baru.

***

          Aku mendapati diriku seorang diri. Jalan dengan amat pelan di sisi jalan yang tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya aku, gemerisik daun yang saling bergesekan dan irama tubuhku yang tidak bersemangat. Namun aku terus berjalan, menyusun satu per satu harapku yang tersisa.

          Aku tidak tahu menamai keadaan ini. Pagi kah, siang kah, atau justru aku sedang berbaur dipekatnya malam. Tidak ada matahari yang selalu membangkitkan jiwa di hari baru, tidak ada bulan yang selalu ingin ku raih, agar aku ada yang dengar, dan tidak ada kerlip sinar putih kecil di atas sana yang selalu ku mohonkan sesuatu.

       Waktu terus berjalan. Sudah berapa lama aku di sini? Angin seperti menelanjangiku. Menusuk tulangku dalam dan, bersama Pinus yang meninggi dan semakin banyak, ikut menertawaiku. Juga lampu jalan yang nyalanya tiba-tiba memelas. Membuatku berjalan semakin cepat. Kerikil yang perlahan-lahan melukai telapak kakiku yang telanjang terasa jauh lebih sakit.

          Semuanya berubah menyakitkan.

Continue reading “Teka-Teki”

SELAMAT JALAN

Pada suatu masa di depan sana
Aku melihatmu semakin jauh
Semakin bahagia di antara sakit yang ku pendam
Meninggalkan jejak yang sudah ribuan kali ku lihat

Jangan menatapku lagi tuk memohon
Tak perlu lagi rayu mu yang membuai
Mari tamatkan drama pilu kita
Melepas topeng yang sempurna kita lakonkan
Membiarkan orang tahu
Bagaimana kau yang ternyata tak pernah akan membalas semuanya

Pesona mu takkan lagi ku bekaskan
Biarkan saja rintihan mengantarnya berderai
Agar aku tenang
Agar kau bahagia

Ingin ku nikmati dingin hujan bulan november yang menyejukkan
Menjejak di bawah kelabunya surya
Lalu memanjakan mata dengan silau lampu kota
Supaya aku tak lagi memohon
Agar wangi tubuhmu kembali ku rengkuh

Meski sakit itu akan membekas
Dan meski kau akan tetap menjadi orang yang ku damba
Aku dari masa lalumu
Akan melepasmu pergi

07 November 2016

BERSAMA BANYAK LAMPU KOTA

Hela napasku membelah dingin temaramnya malam
Melebur bersama jutaan binar lampu kota
Derai tangis yang tak mampu lagi mengalir
Menamparku dalam hanyutan mimpi semu

Meski silau sinar lampu hendak membuai siapa saja
Aku meringis menyaksikan lelucon drama kita
Dimana ada aku yang menyimpul senyum palsu
Dan ada kau yang menikmata lakon kita

Meski tinggi bangunan hendak menghunus lapisan awan
Kau tertawa bersama pesona yang menipu
Pesona liar yang bahkan mengganggu tidur si burung kecil
Membuatnya berkicau nada menyeramkan

Bersama banyak lampu kota ini
Di antara bising klakson buru-memburu
Di tengah dingin angin yang menusuk
Ku pasrahkan diriku dalam diam
Dan bersama banyak sinar lampu lain
Aku tak berdaya di bawah kuasa pesonamu

06 November 2016